![]() “Sudah berapa kali aku bergelut dengan kata-kata, sampai aku tidak sadar telah dipermainkan oleh kata-kata. Dan hingga detik ini aku masih dibingungkan olehnya”. Kata menurut bahasa adalah bentukan dari huruf-huruf menjadi fonem-fonem, dan kemudian menjadi suku kata yang akhirnya menjadi kata.
Mengajak merenung sejenak tentang arti kata-kata, karena dari situlah kita berkomunikasi dengan sesama. Kalau selama ini kita banyak di bingungkan dengan kata, ketahuilah ada banyak sekali rahasia yang tersimpan dibalik kata-kata.
Kadangkala kita terjebak dengan kubangan kata, sehingga kita merasa dipermainkan olehnya. Tetapi semua itu adalah kata, yang tak berarti tanpa adanya symbol dalam bentuk aplikatif yaitu sikap. Kalau saja pemimpin kita mengetahui dengan jelas bahwa kata-kata itu sangat berharga, maka mereka tidak akan mengumbarnya menjadi janji-janji dan akhirnya menjadi headline berita. Kalau hari ini kita banyak mendengar kata tentang pemilu, maka berjanjilah untuk memperhatikan dan menyimak baik-baik sehingga kita menemukan arti yang sebenarnya. Dan diri kita pun tak akan pernah menyesal dengan pemimpin pilihan kita. Kata tak cukup sampai disini, ada banyak sekali sisi-sisi yang terus bergelayut diantaranya. Kita banyak mengetahui tentang hal tersebut karena kita banyak belajar dari pengalaman, tetapi masih banyak saudara-saudara kita yang terjebak dalam kemunafikan kata-kata. Kapankah kita belajar sehingga hati mengikuti Nurani dan bukan Naluri? Kapankah kita akan mengerti semua makna? Sehingga kita tidak pernah terjebak dalam symbol yang kadang tak sesuai dengan kata-kata. Sigorok, awal Agustus 2008
“Kontemplasi Ruang Dan Waktu” |
Lembayung Kata Rabu, Nov 5 2008
Tak Berkategori 6:07 pm
Bangsa Akan Terselamatkan Dengan Sikap Istiqomah Rabu, Nov 5 2008
Tak Berkategori 5:56 pm
|
Taushiah Oleh:
KH. Adib Rofi’uddin Izza ” اَلإِسْتِـقَامَةُ خَيْرٌمِنْ أَلْفِ كَـرَامََةٍ “
“Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah”. Kalimat tersebut sering kita dengar dalam telinga kita. Akan tetapi kita sering terjebak untuk dapat mengejawantahkan arti istiqomah itu sendiri. Bangsa Indonesia yang akhir-akhir ini banyak dilanda konflik horizontal, akan makin terpuruk jika seluruh komponen yang ada didalamnya tidak menerapkan sikap istiqomah. ‘Istiqomah’ secara bahasa berarti tegak dan lurus. Sedangkan secara istilah, para salafus shalih memberikan beberapa definisi, diantaranya :
Yang pertama : اَلإِسْتِـقَامَة ُ بِاللِّسـَانِ هِيَ اَلْمُدَاوَمَة ُعَلَى كَلِمةِ الْحَقِّ وَالشَّهَـادَةِ
Melaksanakan dakwah atau seruan dan ajakan dengan lisan yang mengandung hikmah yang sesuai dengan aturan-aturan syariat. Hal tersebut semestinya harus diimbangi dengan ucapan keseharian kita. Seharusnya kita Selalu berkata jujur, tidak menipu, tidak menambahkan omongan, Konsisten dalam ucapan, tidak memfitnah, dan berusaha untuk selalu amar ma’ruf nahi mungkar. Rasulullah SAW pernah berwasiat jika kita hendak meminta nasehat atau petunjuk kepada orang: دِيْنَكَ,دِيْنَكَ إِنَّمَا هُوَ لَحْمُكَ وَدَمُكَ فَانْظُرْ عَمَّنْ تَأْخُذُ عَنِ الَّـذِيْنَ اسْتَقَمُوْا وَلاَ تَأْخُذ ْ عَنِ الَّـذِيْنَ قَالواُ. Berpegang teguhlah pada agamamu, karena ia (agama) adalah darah dagingmu. Maka berpikirlah jika engkau akan mengambil (nasehat atau petunjuk), ambillah nasehat dan petunjuk itu dari orang yang beristiqomah dan jangan mengambil nasehat dan petunjuk dari orang yang banyak bicara dan teori/Gadur atau orang banyak berbohong. Kebanyakan orang ketika dimintai nasehat selalu menanggapinya dengan sikap provokatif, yang akhirnya akan menambah atau memperkeruh suasana. Dalam kaitan berbangsa dan bernegara, Istiqomah merupakan asas dasar. Istiqomah merupakan sikap awal, karena dengan istiqomah tentunya bangsa dan Negara akan lebih bisa menyongsong masa depan yang lebih baik. Demonstrasi yang anarkis merupakan dampak nyata dari sikap provokatif. Sikap-sikap demikian banyak dimiliki (dijumpai) oleh kalangan politisi. Kata-kata mereka sangat sulit untuk dipegang kebenarannya, kadang hari ini mereka berbicara A, besoknya sudah berbicara B. Mereka (politisi) mencoba untuk memutar balikkan fakta dengan segala argumentasinya. Yang kedua adalah اَلإِسْتِـقَامَة ُ بِالْجِنَانِ هِيَ اَلْمُدَاوَمَة ُعَلَى صِِدْقِ الإِرَادَةِ
Melanggengkan niat yang baik. Artinya jika orang ingin mengerjakan sesuatu, maka harus disertai dengan tujuan yang baik, yakni Lillahi Ta’ala tanpa mengaharapkan imbalan apa-apa dan tendensi apa-apa, semuanya disandarkan hanya karena Allah SWT. Berbicara masalah niat, Ulama mendefinisikan niat “Anniat Hua Qosdu Syay-in Muqtarinan Bil Fi’lih” Niat adalah ucapan dan perbuatan itu harus seimbang atau berbarengan. Pada keseharian bermasyarakat sering kita temui ucapan dan perbuatan sangat tidak seimbang, terlebih pada maraknya musim Pemilihan Umum (pemilu) sekarang ini, baik dari pemilu ditingkat nasional hingga tingkat pemilihan Kepala Desa. Ucapan-ucapan para “calon” dalam pemilu banyak tidak dibarengi (diaplikasikan) dengan perbuatan mereka. Ketidak konsistenan para calon pada niat dalam pemilu adalah hal yang harus dirubah. Karena jarangnya kita temui Shidq Al-iradah dalam kehidupan bermasyarakat, akhirnya timbul kecenderungan banyak orang yang memperkaya diri, mengunggulkan satu golongan, oportunis, dan lain sebagainya.
Jika niat, tujuan dan cara yang baik tidak dipandang sebagai satu kesatuan, maka akan tidak ada artinya niat tersebut. Seperti pepatah bijak mengatakan “Niat yang baik tidak selamanya menghasilkan sesuatu yang baik”. Kita sering berdoa ketika sedang malaksanakan sholat: إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَيَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَـالَمِيْنَ.
“sesungguhnya sholatku, hajiku, hidup dan matiku sepenuhnya kusandarkan pada Allah,SWT”. Dalil tersebut sebagai bentuk pengakuan “penafian” diri kepada Allah,SWT ketika hendak melakukan perbuatan baik. Karena pada sejatinya kita tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa dihadapanNya. Dan yang terakhir adalah اَلإِسْتِـقَامَة ُ بِالنَّفْسِ هِيَ اَلْمُدَاوَمَة ُبِالْعِبـَاةِ وَالطَّـاعَةِ
Melaksanakan ibadah dan taat kepada Allah SWT dengan penuh kesabaran. Memang terbilang sulit menerapkan sabar dalam kehidupan, akan tetapi kita mesti belajar untuk dapat menerapkan kesabaran. Sabar dalam Islam terkandung dalam tiga perbuatan, yang pertama sabar dalam menjalankan Ibadah, Sabar dalam mencegah atau melakukan kemaksiatan, dan Sabar ketika mendapatkan musibah. Ketiga Istiqomah diatas apabila kita jalankan dengan benar, maka akan melahirkan sikap optimis. Orang akan jauh dari sikap pesimis dalam menjalani kehidupan. Ia senantiasa tidak pernah merasa lelah dan gelisah yang akhirnya melahirkan frustasi. Kefuturan yang mencoba mengusik jiwa, kegalauan yang ingin mencabik jiwa mutmainnahnya dan kegelisahan yang menghantui benaknya akan terobati dengan keyakinannya kepada kehendak dan putusan-putusan ilahiah. Allah,SWT berfirman dalam Al-quran: إِنَّ الَّـذِيْنَ قَالـُوا رَبُّنَااللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْـزَنُوْنَ.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (Al-Ahqaf: 13). Setelah mereka sudah tidak lagi takut dan tidak merasa khawatir, maka akan timbul sebuah karomah. Allah SWT berjanji dalam Al-Qur’an: إِنَّ الَّـذِيْنَ قَالـُوا رَبُّنَااللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلآئِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوْا وَلاَتَحْزَنُوْا وَابْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ اَلَّتِى كُنْتُمْ تُوْعَـدُوْنَ.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushshilat: 30) Akhirnya mari kita terapkan sikap istiqomah dalam berbangsa dan bernegara, karena Baldah Al-thoyibah wa Rabb Al-Ghofur merupakan sebuah keniscayaan yang akan segera kita nikmati. Amien. Wallahu a’lam
KH. Adib Rafi’uddin Izza (Rois Syuriah PBNU, Dewan Penasehat Ma’had Robithoh Provinsi Jawa Barat, dan Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren) Ditulis kembali oleh: Achmad Irfan Maulana,syh.,SH |
Tausiah Kebangsaan : Pancasila bagian dari Amanah Rabu, Nov 5 2008
Tak Berkategori 5:45 pm
Oleh: KH. Adib Rafi’uddin Izza
Amanah Dalam Pandangan Bangsa dan Bernegara: Pancasila Merupakan Bagian Dari Amanah MUKTAMAR ke-24 Nahdlatul Ulama (NU) di Situbondo tahun 1984 menorehkan catatan penting bagi warga Nahdliyin, yang sekaligus memberi sumbangan berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai salah satu ormas Islam tertua dan terbesar, NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal dan menegaskan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah keputusan final.
st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:”"; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;} Ada apa dengan Pancasila, dan mengapa harus Pancasila? Jawabannya persis seperti judul tausiah kali ini: Pancasila merupakan bagian dari amanah. Dalam konteks Islam, amanah adalah perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan segenap umatnya. Setiap orang mempunyai amanah dan tanggungjawab yang perlu ditandai dalam semua aspek kehidupan. Amanah juga merupakan sifat yang menentukan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Ia juga merupakan salah satu unsur kesempurnaan pribadi yang patut dimiliki dan dipertahankan oleh setiap individu muslim.
Begitu dalamnya makna amanah bisa dilihat dari definisi yang diberikan banyak ulama, seperti yang terangkum dalam kitab Al-Jami Al-Ayat Al-Ahkam:04. 1. Imam Abu Bakar Muhyiddin Ibn ‘Arabi : 2. Imam Nawawi : 3. Imam Qisa’I : 4. Imam Zamakhsari : Konsep amanah yang dipaparkan para ulama di atas akan lebih indah jika kita mampu menjaga/mengembannya. Apalagi, amanah merupakan pemberian Agung Allah SWT kepada manusia, khalifah di bumi yang mempunyai kewajiban menjalankan amanah itu. Allah SWT berfirman tentang Khalifah dalam Al-Quran:
Seperti Firman Allah SWT dalam Al-Quran: Dan terangkum dalam sebuah Hadits Qudsi: /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:”"; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;} إنَّا عَرَضْنَاالأَمَانَة َ عَلَى السَّمَوَاتِ وَلأَرْضِ فَلَمْ تُطِقْهُمَا فَهَلْ أ َنْتَ حَامِلَهَا بِمَا فِيْهَا ؟ وَمَالِيْ فِيْهَا إِنْ حَمَلْتَهَا أُجِرْتَ وَإِنْ ضَيَّعهاَ عُذِّبْتَ قََََََدْ حَمَلْتَهَا بِماَ فِيْهَا
Kesanggupan Adam ini yang tidak disadari malaikat. Adam sanggup memikul tanggung jawab itu karena manusia dikaruniai kekuatan akal (biquwwati al-aql). Bangsa Indonesia adalah bagian dari manusia dan berarti juga diberikan amanah oleh Allah SWT. Amanah ini yang harus mampu dilaksanakan seluruh komponen yang ada di dalamnya. Dalam konteks ini, kita harus berterima kasih atas kerja keras dan perjuangan para pendiri bangsa dalam menjalankan amanahnya, yakni merumus dan menggagas Pancasila sebagai bentuk tanggung jawab mereka menyatukan bangsa melalui sebuah ideologi yang mampu mengikat kuat menuju cita-cita kesejahteraan bersama. Itu sebabnya, Pancasila bukan semata-mata sebuah simbol kebanggaan ideologi. Lima sila yang terkandung di dalamnya memuat sejumlah amanah Allah SWT yang wajib kita jalankan. Kelima sila tersebut merupakan bagian dari amanah Allah SWT yang diperuntukkan bagi bangsa Indonesia dan kita sebagai warga bangsa ini wajib mengemban serta menjalankannya. Apabila kita tidak bisa mengemban/memikulnya, maka adzab adalah ganjarannya. Kelima Amanah yang terdapat dalam Pancasila dapat kita jelaskan sebagai berikut: 1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Dan QS. Al-Baqarah 163 yang berbunyi: 163. Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran:134). Hubungan horizontal manusia yang demikian merupakan bagian dari amanah Allah, sehingga jika kita laksanakan kelak tercipta nuansa Madani dalam masyarakat. Hubungan antarmanusia ini hendaknya selalu dititikberatkan pada persoalan-persoalan positif, bukan pada persoalan negatif. Bahkan, termasuk pada masalah pertolongan. Kita tidak boleh tolong-menolong yang bersifat negatif dengan dalih “saya tidak berani untuk menolaknya, karena badan (kedudukan) dia lebih besar dari saya”. Allah SWT berfirman: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.(QS.Al-Maidah:2) Sahabat Ali Karramallahu Wajhah pernah mengatakan dua hal tentang konsep kemanusian, yakni Tark Al-Adza (meninggalkan untuk tidak mendzolimi orang lain) dan Ikhtimaal Al-Adza (jika di-dzolimi maka dia tidak membalas/balas dendam). Bila kita mampu mengemban amanah (sila Kedua) ini, maka kita akan menjadi golongan orang-orang pilihan. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: إنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنُكُم أََخْلاقًا
Sesungguhnya orang-orang pilihan diantara kalian adalah orang yang paling bagus akhlaqnya (muttafaqun ‘alaih) 3. Persatuan Indonesia dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran:103) 4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Sila ini cermin bagi sebuah kepemimpinan dan demokrasi. Pemimpin akan selalu dilihat dan diikuti para pengikutnya (umat). Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memberikan contoh dan teladan yang baik kepada rakyatnya, karena rakyat akan senantiasa setia (taat) kepada para pemimpin. Jika antara rakyat dengan rakyat, pemimpin dengan rakyat, atau pemimpin dengan pemimpin terjadi perbedaan pendapat, semangat musyawarah dan berdiksusi untuk mencari solusi hendaknya menjadi pilihan utama. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
Dalam Islam ada dua teori “pergaulan” yang diajarkan, yakni Khabl Min Allah dan Khabl Min Annaas. Keduanya juga bentuk amanah dari Allah SWT, karena dalam Islam bukan hanya hubungan vertikal yang harus dikedepankan, akan tetapi hubungan antarsesama pun harus kita jalankan. Allah SWT menegaskan pada QS. An-Nahl:90 yang berbunyi: 90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku ‘adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl:90) Hubungan antarsesama ini makin bermakna ketika terjadi sebuah perselisihan di antara kaum, khususnya orang Mu’min. Hendaknya kita harus menjadi penengah (mediator) guna menghindari tindak dan perbuatan anarkis. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عَلَى مَنَابِرَمِنْ نُوْرِ الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِى حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَمَا وَلُّوْا.
Sesungguhnya orang-orang yang adil di hari kiamat nanti berada di atas mimbar cahaya, yakni mereka menerapkan keadilan pada hukum, keluarga, dan persoalan kepemerintahan (HR.Muslim). Mudah-mudahan kita mampu mengemban serta mampu menjalankan amanah dari Allah SWT, dan kelak termasuk golongan orang-orang yang bertakwa dan selalu mendapatkan naungan-Nya. Dalam kitab Riadl Al-Sholihien diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, akan ada tujuh golongan yang kelak nanti akan dinaungi oleh Allah SWT, yakni :
Wallahualam Bisshowab KH. Adib Rafi’uddin Izza (Rois Syuriah PBNU, Dewan Penasehat Ma’had Robithoh Provinsi Jawa Barat, dan Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren)
|
Marhaban Yaa Ramadhan : Hikmah Dibalik Berpuasa Rabu, Nov 5 2008
Tak Berkategori 5:42 pm
| Oleh: KH. Adib Rofiuddin Izza
Perintah untuk menyambut bulan ini dengan penuh rasa kegembiraan termaktub dalam sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:
قَدْ آتََاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَاَهْلاً جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِبَرَكَاتٍ فَأكْرِمْ بِهِ
Artinya: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka hendaklah engkau mengucapkan selamat datang kepadanya. Telah datang bulan puasa dengan segenap berkah di dalamnya maka hendaklah engkau memuliakannya.”
Memuliakan bulan suci ramadhan yakni dengan menjalankan ibadah puasa dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik. Perintah menjalankan puasa hanya diperuntukkan bagi orang-orang Islam yang mukmin saja. Artinya orang islam yang belum/tidak berakal, belum baligh tidak mempunyai kewajiban menjalankannya. Allah SWT berfirman dalam Al-qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-baqarah 2: 183)
Tersirat makna dalam ayat ini, bahwa sebenarnya puasa bukanlah ibadah yang baru dilaksanakan ketika kedatangan Islam akan tetapi sudah dilaksanakan jauh sebelumnya. Para pakar perbandingan agama mendapatkan data bahwa sebelum mengenal agama Samawi, orang-orang Mesir kuno, orang-orang Yunani dan Romawi telah mengenal puasa. Demikian juga dengan orang-orang Majusi, Budha, Yahudi dan Kristen.
Ibnu Nadim dalam karyanya “al-Fahrasat” menyebutkan bahwa orang-orang Majusi berpuasa tiga puluh hari dalam setahun. Mereka juga melakukan puasa-puasa sunnah yang ditujukan sebagai penghormatan kepada bulan, Mars dan Matahari. Sementara At-Thabari dalam tafsirnya, Jami` al-Bayan, menyebutkan bahwa seluruh pemeluk agama samawi (ahl kitab) diwajibkan oleh Allah untuk melaksanakan puasa.
Barangkali terdapat perbedaan mengenai tata cara berpuasa antara satu agama dengan agama lainnya. Namun yang penting untuk kita camkan, dipraktekkannya model ibadah dengan cara menahan diri dari makan, minum dan hawa nafsu oleh agama-agama dan umat manusia dari rentang masa yang satu ke rentang masa berikutnya menegaskan bahwa ibadah puasa merupakan ibadah yang bersifat universal. Ia dipandang sebagai jalan yang sangat efektif dalam dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.
Bukan hanya itu, ibadah puasa merupakan ibadah yang nilai pahalanya hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Karena puasa adalah ibadahnya manusia yang khusus untuk Tuhannya yakni Allah,SWT. Dalam sebuah Hadits Qudsi diterangkan bahwa: “Setiap kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya 10-700 kali lipat, kecuali puasa. Karena puasa yakni ibadah yang pahalanya hanya Allah SWT yang mengetahuinya”
Hikmah Ramadhan
Seyogyanya kita dapat menerapkan pengertian puasa itu dalam bulan yang suci dan penuh hikmah ini. Dan dapat mengambil hikmah agar kita termasuk golangan orang-orang yang bertaqwa. Dalam kaitannya dengan hikmah ramadhan, dalam bulan suci ramadhan terdapat banyak hikmah yang terkandung didalamnya. Hikmah yang paling besar adalah dimana pada bulan Ramadhan turun Al-qur’an. Allah SWT menurunkan Al-quran sebagai petunjuk serta pedoman bagi ummat manusia yang ada di dunia. Mungkin inilah pembeda antara puasanya orang-orang terdahulu dengan puasanya ummat Muhammad saw.
Al-Quran merupakan anugerah serta karunia terbesar bagi ummat manusia. Sebagai petunjuk serta rujukan kita dalam kehidupan agar ummat manusia terhindar dari jalan yang salah. Dan kita juga diwajibkan untuk mengemban Amanah Agung ini dengan segenap kemampuan yang ada. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena pada bulan Ramadhan diturunkan Al-Qur’an.
Disamping itu, Ramadhan juga memiliki makna yang terkandung dibalik setiap huruf-hurufnya. Dimana huruf-huruf tersebut mempunyai pengertian serta hikmah yang tersimpan. Huruf-huruf tersebut jika kita jabarkan akan membentuk sebuah pengertian yang luas. Bukan saja berhenti pada sebuah pahala yang didapatkan oleh orang yang berpuasa saja, akan tetapi lebih dari pada itu.
Huruf-huruf tersebut dapat diartikan:
رحمةالله للمؤمنين
Pengertian huruf Ro(ر) dalam kata Ramadhon yakni Rahmat bagi orang-orang mukmin. Seluruh orang yang beriman akan mendapatkan Rahmat dari Allah SWT pada Bulan Ramadhan. Rahmat merupakan bentuk kasih Allah bagi hambanya, dimana Rahmat disini sifatnya bathinyiah. Sebagai contoh adalah lazim kita temui didalam bulan suci Ramadhan orang yang bersedekah akan semakin banyak dibandingkan dengan bulan yang lainnya. Mereka berlomba-lomba untuk bersedekah dan berbuat kebaikan yang lainnya. Hal semacam ini merupakan Rahmat Allah SWT bagi manusia yang beriman yang bersifat bathiniyah.
Allah SWT sendiri menjadikan rahmat ada sejumlah seratus rahmat. Yang satu diturunkan kedunia, sedangkan yang 99 disimpan oleh Allah. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadits :
”Allah SWT menciptakan rahmat itu sejumlah 100, dan Allah hanya menurunkan satu saja kedunia, sedangkan yang 99 disimpan oleh Allah SWT. Dari satu bagian saja rahmat yang diturunkan kedunia itu, makhluk Allah senantiasa saling mengasihi, sehingga binatang pun melindungi anaknya dengan kakinya karena khawatir terhadap keselamatan anaknya itu.”
Dari satu rahmat saja yang diturunkan oleh Allah SWT, seluruh makhluk yang ada dimuka bumi dapat merasakan nikmat dari Rahmat itu. Terlebih pada bulan suci Ramadhan, dimana Rahmat yang satu tersebut terkumpul dan tercurahkan semua untuk hambaNya yang beriman dan berpuasa.
مغفرةالله للعاصين
Jika pada bulan suci Ramadhan tiba, kemudian orang yang selama hidupnya selalu berbuat dosa kemudian dia meminta ampunan dari Allah SWT atas dosa dan perbuatannya tersebut, maka Allah SWT akan memberikan ampunan atas dosa-dosanya itu. Rasulullah saw bersabda:
”Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan bersungguh-sungguh, maka ia akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.”
Jadi dapat diartikan, bahwa makna huruf Mim (م) dalam kata Ramadhan adalah Ampunan Allah SWT bagi orang-orang yang telah berbuat maksiat/dosa)
ضمان الله لطائعين
Setelah orang tersebut beriman dan mengakui serta bertaubat akan dosa-dosanya, barulah Allah SWT akan memberikan jaminan kepada orang yang berpuasa tersebut. Jaminan dalam hal ini tentunya diperuntukkan bagi orang-orang yang Taat beribadah dan bersungguh-sungguh dalam menjalankannya. Ia akan dijamin untuk diampuni segala macam dosanya, segala permohonan / doanya akan segera dikabul, dan lain sebagai.
Dalam sebuah hadits diterangkan bahwasanya manusia yang berpuasa dalam bulan suci ramadhan akan mendapatkan tiga jaminan dari Allah SWT. Ketiga jaminan tersebut yaitu; apabila ia meminta maka Allah akan segera mengabulkannya; apabila ia bertaubat dengan sungguh-sungguh maka Allah akan menerima taubat itu; dan jika ia memohon ampunan maka Allah akan mengampuninya.
Makna huruf (ض) berarti jaminan Allah SWT bagi golongan orang-orang yang taat dalam menjalankan perintahNya, dan menjauhi segala laranganNya.
ألفة الله للمتوكّلين
Jika rahmatullah sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT yang bersifat bathiniyah, maka kasih sayang disini (Ulfatullah) bersifat Dzohiriyah. Dapat diartikan bahwasanya kasih sayangnya Allah SWT akan tercurahkan bagi orang-orang yang berpuasa. Sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT yang pertama disini adalah manusia ketika berbuka puasa akan merasa senang karena ia akan segera makan dan minum setelah seharian menahannya. Dan yang kedua kasih sayangnya Allah dapat kita rasakan kelak di hari akhirat nanti. Dimana kita orang-orang yang berpuasa dan bertakwa akan bertemu langsung bertemu dengan Allah SWT Tuhan semesta Alam di hari yang akan datang.
نوان الله للصادقين
Allah SWT setelah memberikan Rahmat, Ampunan, menjamin serta kasih sayang bagi golongan-golongan yang diterangkan diatas, maka Allah akan memberikan Anugerah. Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad SAW memberikan kabar gembira kepada umat-umat yang beriman bahwa bila datang bulan suci Ramadan akan dibuka pintu-pintu surga, terkunci pintu-pintu neraka dan akan diborgol tangan-tangan setan. Maka dengan demikian, kerjakanlah kewajiban puasa ini dengan sadar dan ikhlas dalam pelaksanaannya dan ikuti adab berpuasa dengan sempurna sehingga tujuan puasa akan tercapai ialah menjadi manusia yang berkualitas (Muttaqin).
Huruf (ن) dalam kata Ramadhan diartikan sebagi anugerah bagi golongan orang-orang yang suka berderma/sedekah. Memberi sedekah di bulan suci Ramadan dapat berupa memberi makan/kebutuhan-kebutuhan pada orang lain yang sangat mengharapkan. Dan itu merupakan perbuatan terpuji. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
”Barang siapa memberi makanan untuk berbuka bagi orang-orang yang berpuasa, maka ia akan mendapat pahala sebanyak orang yang berpuasa pula, tidak kurang sedikit pun.” (HR Tirmidzi). Jadi, memperbanyak sedekah, infak dan zakat mal dan lain-lain di bulan suci Ramadhan itu adalah perbuatan yang sangat terpuji. Suatu ketika sahabat Anas bertanya kepada Rasulullah SAW:
”Ya Rasulullah, kapankah sedekah paling baik dilakukan?” Rasul menjawab: ”Sedekah yang paling baik adalah sedekah di bulan Ramadan.” (HR Tirmidzi).
Bersedekah haruslah dilakukan dengan niat semata-mata mematuhi perintah Allah, tidak perlu diketahui oleh orang lain, cukup diketahui antara kita dengan Allah saja, bahkan tangan kanan pun sebagai petugas pemberi sedekah jangan sampai diketahui oleh tangan kirinya. Sedekah yang dikeluarkan hendaklah berkualitas. Artinya besar-kecilnya sedekah itu sebanding dengan kemampuan seseorang dan memberi makna yang cukup berarti. Bila kita menerima rezeki yang tidak diperkirakan sebelumnya, maka keluarkanlah sedekah yang besarnya kira-kira penerimanya sanggup bergembira seperti apa yang kita rasakan.
Akhirnya mari kita isi bulan yang suci ini dengan hikmah-hikamh yang terkandung didalamnya. Agar kelak kita tidak hanya mendapatkan rasa haus dan laparnya saja ketika berpuasa. Rasulullah saw bersabda:
“Banyak orang yang menjalankan puasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja”. Ketika melaksanakan puasa, sebenarnya tidak ada yang dapat mengetahui apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak. Tidak menutup kemungkinan adanya orang yang terlihat berpuasa namun sebenarnya ia tidak melaksanakan ibadah puasa. Ketika sepi dari orang lain bisa saja ia makan, minum atau mengumbar hawa nafsu tanpa sepengetahuan orang lain. Pendek kata, hanya si pelakulah yang mengetahuinya apakah ia sedang berpuasa atau tidak. Lalu apakah yang membuat seseorang tetap menjaga puasanya? Satu-satunya jawaban adalah keimanan yang terpatri dalam jiwanya. Yang kelak jika ia melaksankannya, maka niscaya ia akan menjadi golongan orang-orang yang bertakwa.
Wallahua’lam Bisshowab
KH. Adib Rafi’uddin Izza (Rois Syuriah PBNU, Dewan Penasehat Ma’had Robithoh Provinsi Jawa Barat, dan Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren) |
Sejarah Singkat Tarekat At-Tijani Rabu, Nov 5 2008
Tak Berkategori 5:39 pm
oleh:
Mohammed Irfan Maulana, Syh., SH
Tarekat Tijani merupakan Salah satu Tarekat yang di amalkan oleh kebanyakan Masyarakat Buntet, isune dewekkah durung manjing tarekat cah. Akan tetapi sangat minim sekali para penganut Tarekat ini yang mengetahui sejarah Tarekat ini.
Jeh Tarekat Tijaniyah ini didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815), salah seorang tokoh dari gerakan “Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini ialah karena penolakannya terhadap sisi eksatik dan metafisis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad SAW sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhan.
At-Tijani dilahirkan pada tahun 1150/1737 di ‘Ain Madi, bagian selatan Aljazair. Sejak umur tujuh tahun dia sudah dapat menghafal al-Quran dan giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman lain, sehingga pada usianya yang masih muda dia sudah menjadi guru. Dia mulai bergaul dengan para sufi pada usia 21 tahun. Pada tahun 1176, dia melanjutkan belajar ke Abyad untuk beberapa tahun. Setelah itu, dia kembali ke tanah kelahirannya. Pada tahun 1181, dia meneruskan pengembaraan intelektualnya ke Tilimsan selama lima tahun.
Pada tahun 1186 (1772 – 1773), dia menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji, dan meneruskan belajar di Makkah dan Madinah. Di dua kota Haramain ini, dia lebih banyak memfokuskan diri untuk berguru kepada banyak tokoh tarekat sufi dan mengamalkan ajarannya. Di antara tarekat yang dipelajarinya, misalnya Tarekat Qadiriyah, Thaibiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Di Madinah dia belajar langsung kepada seorang tokoh sufi, Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, pendiri tarekat Sammaniyah, yang mengajarinya ilmu-ilmu rahasia batin. Kemudian dari Makkah dan Madinah, dia menuju Kairo dan menetap untuk beberapa lama di sana. Pada tahun 1196 (1781 – 1782), atas saran dari seorang syekh sufi yang baru dikenalinya, dia kembali ke Tilimsan untuk mendirikan tarekat sendiri yang independen. Di sana at-Tijani mengadakan khalwat khusus, yakni memutuskan kontak dengan masyarakat sampai mendapatkan ilham (fath/kasyf).
Dalam fath yang diterimanya, dia mengaku bahwa hal itu terjadi dalam keadaan terjaga. Ketika itu, Nabi SAW mendatanginya dan memberitahukan bahwa dirinya tidaklah berhutang budi pada syekh tarekat mana pun.
Karena menurut dia, Nabi sendiri-lah yang selama ini menjadi pembimbingnya dalam bertarekat. Selanjutnya, Nabi SAW menyuruh dia untuk meninggalkan segala sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya berkenaan dengan tarekat. Bahkan dia juga diberi izin untuk mendirikan tarekat sendiri disertai wirid yang mesti diajarkan kepada masyarakat, yaitu istighfar dan shalawat yang diucapkan masing-masing sebanyak 100 kali.
Setelah kejadian itu, ia kembali ber’uzlah di padang pasir dan berdiam di oase Bu Samghun. At-Tijani tampaknya menghadapi tekanan dari kaum otorita Turki. Di tempat inilah ia menerima ilham yang terakhir (1200/1786).
Dalam fath ini Nabi SAW memberikan tambahan wirid, yaitu tahlil yang harus diucapkan sebanyak 100 kali. Nabi SAW juga mengatakan bahwa at-Tijani adalah penunggu yang akan menyelamatkan hamba Allah yang durhaka. Pada tahun 1213/1798, dia meninggalkan ‘uzlahnya dari padang pasir dan pindah ke Maroko untuk memulai menjalankan misi yang lebih luas lagi, dari kota Fes. Di kota ini dia diterima baik oleh penguasa Maulay Sulaiman dan tetap tinggal di sana sampai wafatnya pada 22 September 1815, dalam usia 80 tahun.
Meskipun dia banyak bertarekat dan menjadi muqaddam khalwatiyah (at-Tijani mempunyai silsilah Khalwatiyah), tetapi pada perkembangan selanjutnya, yakni setelah menjalani hidup sufistik secara ketat dan keras, dia kemudian mendirikan tarekat yang independen, yang diyakini atas izin Nabi SAW.
Tarekat yang didirikan at-Tijani ini agak unik dan sedikit banyak berbeda dengan tarekat-tarekat lain terutama soal silsilahnya. Misalnya dari Syekh Ahmad, sang pendiri, langsung kepada Nabi SAW, melintas jarak waktu 12 abad. Begitu juga anggota tarekat ini bukan hanya tidak dibenarkan untuk memberikan bait ‘ahd kepada syekh mana pun, tetapi juga melakukan dzikir untuk wali lain dan dirinya serta wali-wali dari tarekatnya. Menurut at-Tijani, Tuhan tidak menciptakan dua hati dalam hati manusia, dan oleh karenanya tak seorang pun dapat melayani dua orang mursyid sekaligus.
Lagi pula, bagaimana mungkin seorang salik akan bisa sempurna menempuh suatu jalan, sedangkan pada waktu bersamaan ia juga sedang menampuh (mengambil) jalan lain?
Sejak tinggal di kota Fes ini, at-Tijani lebih berkonsentrasi pada pengembangan tarekatnya sendiri. Sebagai seorang syekh tarekat yang berpengaruh dia berkali-kali diajak oleh penguasa negeri itu untuk bergabung dalam urusan politik. Namun, dia tetap menolak. Sikapnya inilah yang membuat dia semakin disegani, dicintai, dan dihormati, baik oleh penguasa setempat maupun oleh masyarakat sekitarnya. Lebih dari itu, pihak penguasa Maulay Sulaiman, meski permintaannya ditolak, tetap memberikan berbagai hak istimewa kepadanya.
Semula tarekat yang dipimpin at-Tijani ini mendapatkan pengikut di Maghribi karena kecamannya terhadap ziarah ke makam para wali dan mawsin yang populer pada waktu itu. Namun karena perekrutan untuk menjadi muqaddam yang ditetapkan oleh at-Tijani agak longgar, misalnya dengan menunjuk sebagai muqaddam-muqaddam siapa pun yang melakukan bai’at, tanpa mengharuskan latihan selain dalam hukum dan aturan-aturan ritual, dengan tekanan utama pada ditinggalkannya semua ikatan dengan syekh-syekh lama kecuali dirinya. Sehingga setelah at-Tijani wafat, agen-agen tadi telah tersebar luas dan dengan sebuah sistem yang mendukungnya membuat dia mempunyai kekuatan penuh. Tarekat ini dengan segera menyebar luas dari Maghribi hingga Afika Barat, Mesir dan Sudan.
Aktivistas gerakan Tarekat Tijaniyah terbukti sangat positif dan militan. Seperti halnya para pengikut tarekat Qadariyah dan Syadziliyah, para murid tarekat ini berjasa menyebarluaskan Islam ke berbagai kawasan Afrika.
Menurut Coppolani, mereka menyiarkan Islam di kalangan pemeluk animisme dengan persaudaraan-persaudaraan sufi lainnya dan berada di garis terdepan dalam melakukan perlawanan terhadap ekspansi kolonialisme. Dari at-Tijani lalu diwakili oleh tokoh lainnya seperti al-Hajj Umar di Sudan Barat. Di Republik Turki, sebuah kelompok kecil penganut Tarekat Tijaniyah, adalah orang-orang muslim pertama yang secara terbuka menetang rezim sekulerisme sekitar tahun 1950.
Tarekat ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1920-an, setelah disebarkan di Jawa Barat oleh seorang ulama pengembara kelahiran Makkah, Ali bin Abdullah at-Tayyib al-Azhari, yang telah menerima ijazah untuk mengajarkan tarekat ini dari dua orang syekh yang berbeda. Dan, pada tahun-tahun berikutnya, beberapa orang Indonesia yang belajar di Makkah menerima bai’at untuk menjadi pengikut Tarekat Tijaniyah dan mendapat ijazah untuk mengajar dari para guru yang masih aktif di sana.
Ini terjadi setelah serbuan Wahabi kedua terhadap Makkah pada tahun 1824, dan kebanyakan tarekat lain tidak dapat lagi menyebarkan ajaran pengkultusan terhadap para wali, tampaknya masih dapat ditolelir.
Di Indonesia, Tijaniyah ditentang keras oleh tarekat-tarekat lain. Gugatan keras dari kalangan ulama tarekat itu dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Tarekat Tijaniyah beserta keturunannya sampai tujuh generasi akan memperlakukan secara khusus pada hari kiamat, dan bahwa pahala yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih, sama dengan membaca seluruh al-Quran sebanyak 1000 kali. Lebih dari itu, para pengikut Tarekat Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru tarekat lain, yang dalam pandangan syekh pesaingnya dianggap sebagai praktik bisnis yang culas. Meski demikian, tarekat ini terus berkembang, utamanya di Cirebon dan Garut (Jawa Barat), Madura dan ujung Timur pulau Jawa sebagai pusat peredarannya. Penentangan ini baru mereda ketika Jam’iyyah Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah menetapkan keputusan setelah memeriksa wirid dan wadzifah tarekat ini. Dan tanpa memberikan pernyataan-pernyataan ekstremnya tarekat ini bukanlah tarekat sesat, karena amalan-amalannya sesuai ajaran Islam.
Sepanjang tahun 80-an tarekat ini ngalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di Jawa Timur. Respons terhadap perkembangan yang dicapai tarekat ini menyebabkan pecahnya kembali konflik dengan para guru dari tarekat lain. Akar konflik ini lebih tertuju kepada persaingan keras untuk mendapatkan murid dan perasaan sakit hati di kalangan sebagian guru yang kehilangan banyak murid berpindah ke Tarekat Tijaniyah.
Kepindahan murid-murid dari tarekat lain ke Tarekat Tijaniyah ini berarti hilang pula murid-murid dari tarekat lain. Karena Tarekat Tijaniyah sama sekali tidak membolehkan para pengikutinya untuk berafiliasi lagi kepada syekh tarekat yang dianut sebelumnya.*** Salahuddin
Ajaran dan Dzikir Tarekat Tijaniyah
Sejauh ini at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya dapat dirujuk dalam bentuk buku-buku karya murid-muridnya, misalnya Jawahir al-Ma’ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf al-Hijab Amman Talaqqa Ma’a at-Tijani min al-Ahzab, dan As-Sirr al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang disebut pertama ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam Tarekat Tijaniyah pada abad ke-19.
Meskipun at-Tijani menentang keras pemujaan terhadap wali pada upacara peringatan haii tertentu dan bersimpati kepada gerakan reformis kaum Wahabi, tetapi dia sendiri tidak menafikan perlunya wali (perantara) tersebut. At-Tijani sangat menekankan perlunya perantara (wali) antara Tuhan dan manusia, yang berperan sebagai wali zaman. Oleh karena itu, buku panduan Tijani kalimatnya dimulai dengan, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan sarana kepada segala sesuatu dan menjadikan sang Syekh perantara sarana untuk manunggal dengan Allah”. Dalam hal ini, perantara itu tak lain adalah dia sendiri dan penerusnya. Dan sebagaimana tarekat-tarekat lain, tarekat ini juga menganjurkan agar anggota-anggotanya mengamalkan ajaran dengan menggambarkan wajah syekh tersebut dalam ingatan mereka, dan mengikuti seluruh nasehat syekh dengan tenang.
Tarekat Tijaniyah mempunyai wirid yang sangat sederhana dan wadhifah yang sangat mudah. Wiridnya terdiri dari Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100 kali. Boleh dilakukan dua kali dalam sehari, setelah shalat Shubuh dan Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istghfar (astaghfirullah al-adzim alladzi laa ilaha illa hua al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali, Shalawat Fatih (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad al-fatih lima ughliqa wa al-khatim lima sabaqa, nasir al-haqq bi al-haqq wa al-hadi ila shirat al-mustaqim wa’ala alihi haqqaqadruhu wa miqdaruh al-adzim) sebanyak 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) sebanyak 100 kali, dan ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali.
Pembacaan wadhifah ini juga paling sedikit dua kali sehari semalam, yaitu pada sore dan malam hari, tetapi lebih afdlal dilakukan pada malam hari. Selain itu, setiap hari Jum’at membaca Hayhalah, yang terdiri dari dzikir tahlil dan Allah, Allah, setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam hal dzikir ini at-Tijani menekankan dzikir cepat secara berjamaah. Beberapa syarat yang ditekankan tarekat ini untuk prosesi pembacaan wirid dan wadhifah: berwudlu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat, tidak boleh berbicara, berniat yang tegas, serta menghadap kiblat.
Satu hal yang penting dicatat dari dzikir Tarekat Tijaniyah — yang membedakannya dengan tarekat-tarekat lain — adalah bahwa tujuan dzikir dalam tarekat ini, sebagaimana dalam Tarekat Idrisiyyah, lebih menitikberatkan pada kesatuan dengan ruh Nabi SAW, bukan kemanunggalan dengan Tuhan, hal mana merupakan perubahan yang mempengaruhi landasan kehidupan mistik. Oleh karena itu, anggota tarekat ini juga menyebut tarekat mereka dengan sebutan At-Thariqah Al-Muhammadiyyah atau At-Thariqah al-Ahmadiyyah, termanya merujuk langsung kepada nama Nabi SAW. Akibatnya, jelas tarekat ini telah memunculkan implikasi yang ditandai dengan perubahan-perubahan mendadak terhadap asketisme dan lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis. Hal ini tampak sekali dalam praktik mereka yang tidak terlalu menekankan pada bimbingan yang ketat, dan penolakan atas ajaran esoterik, terutama ekstatikdan metafisis sufi.
Berikut petikan dari kitab As-sirr al-Abhar Ahmad at-Tijani yang menyangkut berbagai tata tertib, aturan dan dzikir dalam tarekat ini:
“Anda haruslah seorang muslim dewasa untuk melaksanakan awrad, sebab hal (awrad) itu adalah karya Tuhannya manusia. Anda harus meminta izin kepada orang tua sebelum mengambil thariqah, sebab ini adalah salah satu sarana untuk wushul kepada Allah. Anda harus mencari seseorang yang telah memiliki izin murni untuk mentasbihkan Anda ke dalam awrad, supaya Anda dapat behubungan baik dengan Allah.
Anda sebaiknya terhindar sepenuhnya dari awrad lain manapun selain awrad dari Syekh Anda, sebab Tuhan tidak menciptakan dua hati di dalam diri Anda. Jangan mengunjungi wali manapun, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebab tidak seorang pun dapat melayani dua mursyid sekaligus. Anda harus disiplin dan menjalankan shalat lima waktu dalam jamaah dan disiplin dalam menjalankan ketentuan-ketentuan syari’at, sebab semua itu telah ditetapkan oleh makhluk terbaik (Nabi SAW). Anda harus mencintai Syekh dan khalifahnya selama hidup Anda, sebab bagi makhluk biasa cinta semacam itu adalah sarana untuk kemanunggalan: dan jangan berfikir bahwa Anda mampu menjaga diri Anda sendiri dari Kreativitas Tuhan Semesta, sebab ini adalah salah satu ciri dari kegagalan.
Anda dilarang untuk memfitnah, atau menimbulkan permusuhan terhadap Syekh Anda, sebab hal itu akan membawa kerusakan pada diri Anda. Anda dilarang berhenti untuk melantunkan awrad selama hidup Anda, sebab awrad itu mengandung misteri-misteri Sang Pencipta. Anda harus yakin bahwa Syekh mengatakan kepada Anda tentang kebijakan-kebijakan, sebab itu semua termasuk ucapan-ucapan Tuhan Yang Awal dan Yang Akhir.
Anda dilarang mengkritik segala sesuatu yang tampak aneh dalam thariqah ini, atau Penguasa Yang Adil akan mencabut Anda dari kebijak-kebijakan.
Jangan melantunkan wirid Syekh kecuali sesudah mendapat izin dan menjalani pentasbihan (talqin) yang selayaknya, sebab itu keluar dalam bentuk ujaran yang lugu. Berkumpullah bersama untuk wadhifah dan dzikir Jum’at dengan persaudaraan, sebab itu adalah penjagaan terhadap muslihat syetan. Anda dilarang membaca Jauharat al-Kamal kecuali dalam keadaan suci dari hadats, sebab Nabi SAW akan hadir dalam pembacaan ketujuh.
Jangan menginterupsi (pelantunan yang dilakukan oleh) siapa pun, khususnya oleh sesama sufi, sebab interupsi semacam itu adalah cara-cara syetan. Jangan kendur dalam wirid Anda, dan jangan pula menundanya dengan dalih apa pun atau yang lain, sebab hukuman akan jatuh kepada orang yang mengambil wirid lantas meninggalkan sama sekali atau melupakannya, dan dia akan menjadi hancur. Jangan pergi dan mengalihkan awrad tanpa izin yang layak untuk malakukan itu, sebab orang yang melakukan hal itu dan tidak bertaubat niscaya akan sampai kepada kejahatan dan kesengsaraan akan menimpanya. Anda dilarang memberitahukan wirid kepada orang lain kecuali saudara Anda dalam thariqah, sebab itu adalah salah satu pokok etika sains spiritual”.
Setiap tarekat memiliki satu atau lebih doa kekuatan khusus, misalnya Hizb al-Bahr milik Tarekat Syadziliyah, Subhan ad-Daim Isawiyah, Wirid as-Sattar milik Khalwatiyah, Awrad Fathiyyah milik Hamadaniyyah, dan lain-lain. Ciri khusu dari dzikir dan wirid yang menjadi andalan milik penuh tarekat ini adalah Shalawat Fatih dan Jauharat al-Kamal. Mengenai Shalawat Fatih, at-Tijani mengatakan bahwa dirinya telah memperintahkan untuk mengucapkan doa-doa ini oleh Nabi SAW sendiri. Meskipun pendek, doa itu dianggap mengandung kebaikan dalam delapan jenis: orang yang membaca sekali, dijamin akan menerima kebahagiaan dari dua dunia; juga membaca sekali akan dapat menghapus semua dosa dan setara dengan 6000 kali semua doa untuk memuji kemuliaan Tuhan, semua dzikir dan doa, yang pendek maupun yang panjang, yang pernah dibaca di alam raya. Orang yang membacanya 10 kali, akan memperoleh pahala yang lebih besar dibanding yang patut diterima oleh sang wali yang hidup selama 10 ribu tahun tetapi tidak pernah mengucapkannya. Mengucapkannya sekali setara dengan doa seluruh malaikat, manusia, jin sejak awal penciptaan mereka sampai masa ketika doa tersebut diucapkan, dan mengucapkannya untuk yang kedua kali adalah sama dengannya (yaitu setara dengan pahala dari yang pertama) ditambah dengan pahala dari yang pertama dan yang kedua, dan seterusnya.
Tentang Jauharat al-Kamal, yang juga diajarkan oleh Nabi SAW sendiri kepada at-Tijani, para anggota tarekat ini meyakini bahwa selama pembacaan ketujuh Jauharat al-Kamal, asalkan ritual telah dilakukan sebagaimana mestinya, Nabi SAW beserta keempat sahabat atau khalifah Islam hadir memberikan kesaksian pembacaan itu. Wafatnya Nabi SAW tidaklah menjadi tirai yang menghalangi untuk selalu hadir dan dekat kepada mereka. Bagi at-Tijani dan anggota tarekatnya, tidak ada yang aneh dalam hal kedekatan ini. Sebab wafatnya Nabi SAW hanya mengandung arti bahwa dia tidak lagi dapat dilihat oleh semua manusia, meskipun dia tetap mempertahankan penampilannya sebelum dia wafat dan tetap ada di mana-mana: dan dia muncul dalam impian atau di siang hari di hadapan orang yang disukainya.
Akan tetapi kaum muslim ortodoks membantah penyataan Ahmad Tijani dan para pengikutnya yang menyangkut pengajaran Nabi SAW ini kepadanya. Sebab jika Nabi SAW secara pribadi mengajari at-Tijani rumusan-rumusan doa tertentu maka itu berarti bahwa Muhammad telah “wafat” tanpa menyampaikan secara sempurna pesan kenabiannya, dan mempercayai hal ini sama dengan tindak kekafiran, kufr.
Tentu saja, alasan kaum muslim ortodoks ini masih bisa diperdebatkan, misalnya tanpa bermaksud membela tarekat ini dengan mempertanyakan kembali, apakah betul pengajaran Nabi SAW melalui mimpi itu berarti mengurangi kesempurnaan kenabiannya? Bukankah substansi dari pengajaran itu lebih tertuju kepada perintah bershalawat yang masih dalam bingkai pesan kenabian (syari’at), dan bukan merupakan hal yang baru? Bukankah Nabi SAW pernah bersabda bahwa mimpi seorang mukmin seperempat puluh enam dari kenabian? Menyangkut pahala pembacaannya, bukankah rahmat dan anugerah Allah yang tak terhingga akan tercurahkan kepada umat Islam yang senantiasa mewiridkan shalawat kepada sang hamba paripurna, kekasih dan pujaan-Nya, Muhammad Rasulullah SAW?.
dikutip sing pirang-pirang sumber
Fitrah dan Kesalehan Sosial Rabu, Nov 5 2008
Tak Berkategori 5:33 pm
| Pesan Buntet Menyambut Idul Fitri 1429 H.
Oleh: KH. Adib Rofiuddin
RAMADHAN ibarat sebuah bulan penuaian besar dari berbagaiamalan saleh, atau biasa kita sebut sebagai yaum al-khasd. Orang dapatdengan mudah menuai apa saja yang dia kehendaki, karena Allah SWT telahmemberikan jaminan terhadap orang yang berpuasa. Ibadah puasa dengan menahansegala hawa nafsu yang ada dalam jiwa dan raga merupakan media bagi orang-orangyang beriman agar niscaya menjadi golongan orang yang bertakwa. Setelahmenjalankan ibadah tersebut, kita ibarat seorang bayi yang baru lahir, yangsuci, dan tidak terdapat dosa padanya. Keadaan suci seperti ini akan tetap terpeliharajika kita memang mampu menjaganya setelah selesainya bulan Ramadhan dengan amalansaleh.
Kadang sering kita dengar sebuah ungkapan “kita bagaikankertas putih tanpa noda setelah berpuasa”. Dari segi bahasa ungkapan itu memangbenar, memang fitrah sendiri dari segi bahasa mempunyai arti suci dari dosa.Akan tetapi ungkapan tersebut jika ditilik segi eksistensi fitrah jelas salah.Karena fitrah merupakan pengejawantahan sikap diri akan ajaran-ajaran Allah SWT.Bukan hanya raganya saja yang suci, akan tetapi jiwa pun ikut tersucikan. DalamAl-Qur’an sendiri, Allah SWT menjelaskan arti Fitrah pada QS.Arruum:30, yangartinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama(Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut Fitrahitu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) Agama yang lurus; tetapikebanyakan manusia tidak mengetahui”. Manusia diciptakan Allah dengan mempunyai naluri beragamayaitu agama Tauhid. Apabila banyak kita temui manusia yang melenceng darituntutan Agama Tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Merekahanyalah terpengaruh dari lingkungannya. Dan orang tua merupakan lingkunganterdekat bagi seorang anak. Para cendikiawan muslimmengartikan fitrah berbeda-beda. Dimana Imam Abu Zar’ah sendiri mengartikanfitrah adalah sebagai ushul al-khilqoh (asal kejadian manusia),sedangkan Imam Ibnu Mundzir mengartikannya sebagai awwal al-khilqoh(permulaan kejadian manusia). Jadi dapat diartikan bahwa Fitrah manusia adalah asaldan awal kejadian manusia. Manusia sendiri berawal dari jiwa serta raga yangsuci, kemudian beranjak mendapatkan pengaruh dari lingkungan sekitarnya baikyang berbentuk positif maupun negatif. Artinya, hanya lingkunganlah yangmenjadikan dia berpaling dari kesalehan, yaitu agama Allah. Dapat diibaratkandisini, bahwa sejatinya yang nama airpasti akan mengalir mencari tempat yang rendah, jika ada air yang mengalirkeatas berarti dipengaruhi oleh lingkungan. Mungkin dengan pompa air atausejenisnya. Sejalan dengan itu, Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadits: “Setiapmanusia dilahirkan kedunia itu dalam keadaan fitrah (suci). Yang menjadikannyaseorang anak itu yahudi, nasrani, atau majusi adalah faktor orang tuanya”.
Makna i’dul fitri secarabahasa berarti kembali dalam keadaan suci. Jiwa dan Raga kita tersucikandengan berpuasa. Puasa sendiri merupakan pelatihan diri untuk menuju fitrahkita sesungguhnya. Dimana fitrah sesungguhnya adalah dengan menjalankan segala perintahNyadan menjauhi segala laranganNya. Dalam berpuasa dibulan ramadhan jugasemestinya menjadi sarana kontemplasi sosial, yang akhirnya kita akan lebihpeka lagi terhadap sesama. Puasa melatih kita bukan hanya lebih mendekatkandiri kepada sang khaliq, akan tetapi lebih dari itu. Karena dalam ramadhansetidak-tidaknya kita diajarkan untuk dapat merasakan lapar dan haus yang biasaditemui dan dirasakan oleh orang miskin. Sebenarnya Ramadhanmengajarkan kita terhadap kesalehan sosial dan kekhusu’an vertikal yang imbang.Ramadhan mengajak kita untuk bermukhasabah dan selanjutnya lebih peka terhadapsesama. Tengoklah realitas disekitar kita. Kesejahteraan belum terasakan padamasyarakat, ketidakadilan terus berlangsung sempurna. Pembodohan terhadaprakyat terjadi demikian vulgar, dan kekerasan atas nama Agama berulangkalimuncul dengan telanjang. Hal-hal tersebut merupakan salah satu dari sekian banyakpersoalan sosial disekitar kita. Seharusnya dengan menjalankan puasa Ramadhanseluruh tatanan yang ada akan semakin menuju perubahan positif.
Akan terasa sangat indah, dantercipta sebuah tatanan yang kondusif dalam berbangsa jika kita sebagai manusiayang beragama dapat mengimplementasikan kesucian kita dalam bermasyarakat.
Dari pada itu, salah satubentuk perimbangan hubungan vertikal dan horizontal dalam berpuasa dapat kitatemui juga dengan adanya Zakat fitrah. Dalam kaitan puasa Ramadhan, baru dapatdikatakan suci (fitrah) setelah kita melengkapinya dengan menunaikan ZakatFitrah. Karena padanyalah penyempurna ibadah puasa ramadhan kita dapat dilihat.Rasulullah saw bersabda: ‘Zakat fitrahmerupakan penyempurna bagi orang-orang yang berpuasa’ (HR.AbuDawud). Dari segi waktupendistribusian zakat fitrah, akan dapat dilihat begitu ramahnya ramadhan dalammengakhiri kebersamaan. Pertimbangan waktu pembagian itu tidak lain karenadilihat dari tujuannya, zakat fitrah merupakan cita dari sikap sosial agarseluruh ummat muslim pada hari raya dapat menikmati hidangan dengan layak tanpaada satu orang pun yang tidak bisa (merasakan) makan. Ada lima waktu yangditetapkan sebagai acuan dalam menunaikan zakat fitrah. Kelima waktu tersebut mulaidari yang sifatnya diperbolehkan hingga haram untuk dilaksanakan. Kelima waktutersebut adalah:
Sangat jelas sekali pesan yangdibawa dalam penetapan waktu distribusi zakat fitrah ini. Hal ini sebagaibentuk sikap sosial yang luar biasa dalam beragama, agar semua elemen ikutmerasakan kegembiraan pada hari raya tanpa terkecuali. Akhirnya setelah kitamenjalankan ibadah puasa Ramadhan, hingga disempurnakan dengan zakat fitrah, semogakita semua termasuk golongan orang-orang yang mukmin dan senantiasa menjagakefitrahan jiwa dan raga akan ajaran-ajaran Agama Allah SWT. Karena banyakdiantara kita yang menjalankan ibadah puasa akan tetapi hanya mendapatkan lapardan hausnya saja. Taqabbal Allah Minna wa MinkumTaqabbal Yaa Kariem. Minal a’idzin wa al-faaizin Wallahua’lam KH. Adib Rafi’uddinIzza (Rois Syuriah PBNU, Dewan Penasehat Ma’had Robithoh Provinsi Jawa Barat,dan Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren)
|
Santri Muda Menantang Ketidakadilan Rabu, Nov 5 2008
Tak Berkategori 5:29 pm
Oleh: Ahmad Irfan Maulana syh, SH.
Hari ini, seperti diberitakan diberbagai situs dan televisi para santri Ponpes Salafiyah Safi’iyah Situbondo pengasuh KHR Fawaid As’ad memblokade jalan pantura tepatnya Jalan Raya Desa Sumber Rejo Situbondo, depan kantor Balai Penelitian Kapas Dinas Perkebunan Provinsi Jatim, Selasa ( detik Surabaya: 28/10/2008).
Yang mereka tuntut dalam aksi demo tersebut adalah agar Bupati Situbondo Ismunarso yang ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi dana Kasda Pemkab Situbondo senilai Rp 45,750 miliar segera ditahan.
Peristiwa para santri yang nota bene masih muda itu, menujukkan bahwa kemandirian santri dalam membela kebenaran dan ikut bertanggung jawab dalam menumpas kemungkaran di negeri ini patut diapresiasi. Setidaknya, para santri santri ikut andil dalam menumpas kemungkaran dan dilakukan dencara (demo)kratis . Santri pada dasarnya memang hanya akan mengikuti kehendak para pemimpinnya. Dalam hal ini para kyai dan pembina pesantren. Daya manut dan nurut para santri sudah dibiasakan dalam kultur sehari-hari di pesantren. Setidaknya dalam peristiwa kemaren dimana para santri ikut demo menetang penguasa yang korup bisa menjadi tolok ukur seberapa jauh peran pesantren ikut serta dalam “menyapu latar negeri ini” karena banyak kotoran dan sampah-sampah yang bau busuknya menembus langit tujuh dan akherat. Kita memang sudah geram melihat bagaimana negeri ini masih banyak biang-biang korupsi merajalela. Musuh bersama bernama korupsi itu kini bukan saja hilang dari pandangan mata, tetapi sudah berani terang-terangan untuk berjamaah. Bahkan kasus terakhir mantan petinggi surga uang di Indonesia itu masih sempat senyum-senyum, meskipun keluarga grung-grungan menangisi nasibnya. Mafhum Bupati Situbondo Ismunarso yang tengah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi dana Kasda Pemkab Situbondo senilai Rp 45,750 miliar memang tengah diproses. Namun seperti biasa, sangkaan warga bila menghadapi kasus korupsi pejabat tinggi apalagi beliau dari partai memiliki banyak backup, sepertinya ada kesan aweh pakewuh. Ditambah lagi kecurigaan “main mata” antar jaksa dan tersangka atau antara komponen pengadilan lainnya sudah menjadi barang biasa. Apalagi kasus dimana negeri keadilan itu pernah mengalami masalah dengan para jaksanya dari tingkat bawah hingga tingkat tinggi. Harapan keadilan masyarakat agar memperoleh porsinya memang tidak dengan mudah perlu perjuangan yang berat lagi ketat. Kalau saja tidak ada KPK (Korupsi Pemberantasan Korupsi), mungkin lembaga keadilan semakin “kaya”dan berjaya untuk mengurus keadilan made in dewek dan keadilan semakin miskin. Banyaknya kasus petinggi daerah dipidanakan ini tidak jauh dari peran KPK (komisi pemberantasan korupsi) yang bekerja ekstra meskipun masih dalam koridor yang kecil-kecil belum menyantuh para kakap yang meluluh lantakan perekonomian Indonesia. Hemat kami, santri sebagai warga muda saatnya bangkit untuk terus menerus belajar terjun ke masyarakat dan “melek masalah” untuk memahami keadaan. Termasuk Buntet Pesantren yang nota bene sebagai pesantren tua hendaknya bisa menjadi penengah dalam masalah ketidakberesan negeri ini dari biang-biang korupsi dan menempatkan ketidak adilan sebagai musuh bersama; ketidak jujuran sebagai musuh yang harus dienyahkan. Namun sebagaimana cara-cara santun yang diajarkan dipesantren, amar ma’ruf nahi mungkar mesti di tegakkan dalam koridor akhlaqul karimah. Tidak menyakiti orang orang yang memang tidak tahu menahu serta tidak menambah masalah negeri ini karena ulah segelintir orang. Kita berharap di saat peringatan sumpah pemuda yang memasuki usia 80 tahun ini para santri baik yang masih mondok maupun yang sudah menjadi alumni agar tidak melupakan tradisi santri sebagai agen perubahan masyarakat. Dengan caranya sendiri warga santri dan warga pesantren akan terus cinta Indonesia dan tidak meridoi sampah-sampah ketidak adilan masih berserakan di negeri ini. Bangkitlah pemuda, bangkitlah santri! Meredeka!! |
Paripatetik Selasa, Apr 8 2008
Tak Berkategori 7:29 am
Kecemerlangan Ibnu Rusyd dalam filsafat Paripatetik
Ghulam Hossein Ebrahimi Dinani
Buku pemenang pertama festival buku Iran tahun yang ke 24, tahun ini (1385), dalam kategori filsafat Islam.
Di dunia Islam, filsafat telah melalui berbagai macam periode. Perjalanan filsafat Islam dimulai secara resmi di abad ke dua dan tiga Hijriyah, berbarengan dengan penerjemahan karya-karya pemikir Yunani. Sebelumnya, sekalipun kajian teologi cukup digandrungi, namun filsafat tidak memiliki posisi tersendiri. Filosof muslim pertama adalah Abu Ishaq al-Kindi (185-260 H).
Abu Nasr al-Farabi adalah filosof pertama yang mengonsep filsafat Islam. Al-Farabi selama hidupnya berusaha untuk mengharmoniskan ide-ide Plato dan Aristoteles. Ia sebagaimana mayoritas pemikir muslim lainnya, salah menganggap buku Otologia tulisan Plotinus sebagai milik Aristoteles. Itulah mengapa tanpa disadarinya ia terpengaruh Neo Platonisme. Farabi termasuk penggagas filsafat Paripatetik yang pada akhirnya berhadap-hadapan dengan filsafat-irfani Syaikh Maqtul Suhrawardi. Abu Ali Sina adalah salah satu filosof lain yang digabungkan pada aliran filsafat Paripatetik. Dengan kejeniusannya, iamenuangkan ide-idenya kedalam tulisan-tulisan filsafatnya. Ia juga berhasil mendidik muridnya Bahmaniyar menjadi salah satu pemikir berbakat dalam filsafat Paripatetik.
Masa keemasan filsafat Paripatetik berada di tangan Ibnu Sina. Ini membuat filsafat menjadi faktor penentu budaya dan penentu ilmu-ilmu yang lain. Dengan Ibnu Sina, para teolog dan arif menjadi tertantang. Para arif, yang menganggap argumentasi falsafi bak tongkat kayu yang rapuh, mulai kasak-kusuk untuk menjauhkan filsafat dari kaum muslimin. Mereka mengatakan bahwa jalan terdekat dan satu-satunya cara untuk mengenal al-Haq adalah dengan membersihkan hati dan ibadah. Filsafat hanya akan membuat orang jauh dari jalan yang sebenarnya.
Di sisi lain, para teolog juga tidak dapat menerima filsafat. Mereka berpendapat bahwa apa yang diungkapkan oleh para filosof muslim bertentangan dengan al-Quran dan Hadis, bahkan Islam menolak filsafat. Salah satu ahli teolog besar yang menetang keras filsafat adalah Abu Hamid al-Ghazali. Ghazali yang dipengaruhi oleh pemikiran tasawwuf menyebutkan bahwa dalam 20 pendapat Ibnu Sina bertentangan dengan Islam dan dalam tiga pandangannya telah sampai pada batas kafir. Tiga pandangan Ibnu Sina yang dianggap kafir oleh Ghazali adalah:
1. Keyakinan akan qidamnya alam.
2. Pengingkaran akan ilmu Allah atas obyek-obyek parsial dan kasuistik.
3. Pengingkaran terhadap hari kebangkitan manusia dengan jasad.
Setelah Ghazali, pemikir yang paling menentang filsafat adalah Fakhruddin ar-Razi. Ia meyakini bahwa ide-ide filsafat Paripatetik dan semua terjemahan pemikiran Yunani membuat agama menjadi kering. Penentangan terhadap filsafat dan pembakaran buku-buku filsafat membuat filsafat Islam mengalami kemunduran.
Sejarawan Barat dan mereka yang memandang filsafat Islam dengan kaca mata Barat, menganggap bahwa kemunduran filsafat Islam di belahan timur dunia Islam menjadikan filsafat secara umum telah musnah di kawasan itu. Sekalipun anggapan ini tidak benar sepenuhnya, namun dapat menunjukkan semangat penentangan terhadap filsafat. Hebatnya penentangan yang dilakukan oleh para arif dan teolog membuat tidak ada lagi filosof yang muncul dari kawasan timur dunia Islam.
Ketika filsafat mengalami kemunduran di kawasan timur, muncul beberapa filosof di kawasan Barat. Mereka adalah Ibnu Bajah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd. Ibnu Bajah mengkonsentrasikan ide-idenya untuk melawan tasawwuf. Ia menganggap tasawwuf sendiri sebagai hijab dan penutup manusia dari kebenaran. Kebalikan dari cara pandang urafa, Ibnu Bajah menganggap satu-satunya jalan untuk mengenal adalah filsafat. Karena filsafat tidak dicampuri oleh segala macam kelezatan fisik. Ia menambahkan bahwa kemungkinan inilah yang membuat para filosof diasingkan oleh masyarakat yang bodoh.
Setelah Ibnu Bajah, muncul Ibnu Thufail dengan kisah monumentalnya Hayyu bin Yaqzhan. Kisah itu membuatnya terkenal. Dalam cerita falsafinya itu ia berusaha untuk membuktikan bahwa manusia dengan akalnya dapat mengenal Allah. Kemampuan itu dapat diraih sekalipun tanpa bantuan wahyu dan Nabi. Cerita ini sangat mendapat perhatian Barat, sehingga mereka menerjemahkannya dalam berbagai bahasa. Semua peneliti mengetahui bahwa Daniel Defoe yang menciptakan tokoh Robinson Crusoe benar-benar dipengaruhi oleh ide Ibnu Thufail.
Sebegitu terkenalnya kedua pemikir ini, masih di bawah bayang-bayang Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd (520-595 H). Hal itu karena pengaruh Ibnu Rusyd lebih kuat dari keduanya. Ibnu rusyd seperti tokoh-tokoh filsafat Paripatetik lainnya, senantiasa berusaha untuk mengharmoniskan antara filsafat dan agama. Selain itu, ia juga menulis buku “Tahafut at-Tahafut” untuk menjawab tulisan Ghazali “Tahafut al-Falasifah”. Dalam membela pemikiran filsafat, ia sampai pada kesimpulan bahwa hanya filosof saja yang mengetahui rahasia-rahasia al-Quran dan yang berhak untuk mentakwilkannya. Ibnu Rusyd menganggap bahwa kritikan Ghazali terhadap filsafat muncul karena Ibnu Sina tidak mampu menjelaskan filsafat sebagaimana yang dijelaskannya. Dengan itu, sebenarnya, bukan saja Ibnu Rusyd melakukan menjawab kritikan Ghazali tapi sekaligus mengkritik ibnu Sina.
Perbedaan ibnu Rusyd dengan farabi dan Ibnu Sina pada pengaruh ide-ide Neo Platonisme. Ia lebih sedikit dipengaruhi oleh ide Neo Platonisme. Ia menolak ide penciptaan dari tiada dan menetapkan keabadian materi. Ia menulis syarah buku-buku Aristoteles yang sampai saat ini masih dikaji oleh pengamat pikiran-pikiran Aristoteles. Begitulah William David Rush peniliti pikiran-pikiran Aristotels dalam buku-bukunya masih mempergunakan penjelasan Ibnu Rusyd. Dengan syarah-syarahnya atas buku Aristoteles pemikirannya banyak di kaji di Barat. Ernest Renan menganggapnya orang yang bebas. Sebelum menetapkan sebuah istilah ia adalah seorang yang bebas dalam berpikir. Pengaruh Ibnu Rusyd di Barat dapat juga dilacak lewat tulisan-tulisan pemikir Barat pada abad pertengahan yang menimbulkan semakin luasnya ide Rasionalisme di Barat. Ironisnya, pengaruhnya di Barat tidak sepadan dengan respon kaum muslimin di kawasan timur dunia Islam. Pengaruh tasawwuf yang cukup kuat membuat pikiran-pikiran filsafat Ibnu Rusyd tidak dikenal orang di sana.
Denga penjelasan yang lebih detil, pada periode ini perjalanan filsafat Islami ada ketaktertautan yang menganga. Di satu sisi, Ibnu Rusyd tidak dikenal oleh kaum muslimin dan di sisi lain, dengan meninggalnya ibnu Rusyd Barat menganggap filsafat islam telah tutup mata dan musnah. Akhirnya, filosof seperti Suhrawardi, Khajah Nashiruddin at-Thusi, Mir Damad dan Mulla Shadra tidak dikenal.
Buku “Kecemerlangan Ibnu Rusyd dalam filsafat Paripatetik” (Derakhshesh-e Ibnu Rusyd Dar Falsafe-ye Massha), merupakan buku dalam bahasa Parsi yang secara terperinci membahas ide-ide filsafat Ibnu Rusyd. Profesor Ghulam Hossein Ebrahimi Dinani, dengan pengalaman bertahun-tahun mengajar dan menulis berusaha untuk memperkenalkan kecemerlangan pemikiran Ibnu Rusyd yang tidak terlalu dikenal di dunia Islam. Ia menyebutkan:
“Ibnu Rusyd begitu terkenal di pusat-pusat penelitian dunia. Di antara filosof Iran ia tidak begitu dikenal. Bukan omong kosong bila ada yang mengatakan bahwa selama delapan abad setelah meninggalnya ibnu Rusyd, belum ada buku berbahasa Parsi yang ditulis menjelaskan pemikirannya. Inilah yang mendorong penulis untuk menulis buku ini. Penulis berusaha untuk membahas dan menganalisa pikiran-pikiran Ibnu Ruysd. Sekaligus sebagai buku pertama bahasa Parsi yang ditulis dalam rangka mengkaji secara terperinci pemikiran Ibnu Rusyd.”
Kecemerlangan Ibnu Rusyd dalam filsafat Paripatetik dimulai dengan kata pengantar yang cukup panjang. Karena di sana, dibahas juga tentang hubungan antara filsafat Islam dengan filsafat Yunani. Di akhir kata pengantar ini, Ibnu Rusyd diperkenalkan sebagai filosof yang mengikuti ide-ide Aristoteles dan membela pemikiran Yunani.
Dinani menganggap bahwa Kebanyakan filosof muslim, terutama Farabi dan Ibnu Sina, dalam mengkaji ide-ide Aristoteles tidak mengambil sikap pasif, namun aktif melakukan kritik. Dengan alasan ini, kedua filosof ini tidak murni menganut pikiran Aristoteles. Pikiran filsafat mereka dipengaruhi Plato, Neo Platonisme dan pikiran mereka sendiri yang muncul ketika mereka melakukan kritik terhadap pikiran Aristoteles. Atas dasar inilah, Ibnu Rusyd menganggap ibnu Sina telah keluar dari bingkai pemikiran Aristoteles. Ebrahimi Dinani meyakini kebenaran tuduhan Ibnu Rusyd terhadap ibnu Sina. Namun, itu tidak berarti kekurangan ibnu Sina, melainkan untuk menunjukkan kebebasan berpikir dari Ibnu Sina. Dan di situlah kelebihan ibnu Sina. Dengan melihat penilaian Ibnu Rusyd atas Ibnu Sina dapat diketahui bahwa ia benar-benar sebagai perwakilan pemikiran Aristoteles.
Bab pertama buku ini “Pengaruh pemikiran Ibnu Ruysd dan Ibnu Sina terhadap karya-karya filsafat Barat di abad pertengahan”. Dalam bab ini, Dinani membeberkan juga bagaimana Ibnu Ruysd dipengaruhi oleh ide-ide pemikir Islam sebelumnya. Selain itu, penulis juga menjelaskan pengaruh pemikiran Ibnu Rusyd selama empat abad dalam pemikiran Barat. Ia membawakan dialog antara pemikiran Ibnu Ruysd dengan para pendeta.
Karya ibnu Rusyd pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa latin pada abad tiga belas. Bukunya diajarkan dan menjadi primadona di universitas-universitas Eropa. St. Aquinas pemikir paling terkenal di abad pertengahan yang dipengaruhi oleh ide-ide ibnu Rusyd. Di kalangan Yahudi yang terpengaruh pemikiran Ibnu Ruysd seperti; Musa bin Maimun, Yossef bin Yahuda dan pemikir-pemikir Yahudi Andalusia. Mereka menyebut Ibnu Rusyd sebagai semangat dan akal Aristoteles.
Bab kedua “Hakikat ganda atau dua hal yang dicerap dari hakikat yang satu”. Bab kedua ini membicarakan tentang substansi hakikat menurut pandangan Ibnu Rusyd. “Hakikat ganda” atau “hakikat muzdawij” merupakan pandangan khas milik Ibnu Rusyd. Pendapat ini sangat menarik perhatian pemikir-pemikir Barat. Yang dimaksud dengan ide hakikat ganda Ibnu Rusyd adalah “Memiliki arti bahwa Ibnu Rusyd ingin membedakan antara hakikat yang dibawa oleh agama dan hakikat yang dipahami oleh para filosof”. Setelah menukilkan dan menjelaskan teori hakikat ganda milik Rusyd, penulis kemudian melakukan analisa kritis terhadapnya. Yang paling menarik dalam bab ini adalah usaha penulis untuk menerapkan teori ini dalam berbagai disiplin ilmu; dimulai dari hubungan antara agama dan negara sampai masalah pluralisme agama. Pada akhir dari bab ini, Dinani menukil ibarat Ibnu Rusyd dan menganalisanya dan menyimpulkan bahwa sebenarnya ide Rusyd tidak bermakna ada dua hakikat tapi ada dua tingkatan hakikat; batin dan lahir. Mereka yang meyakini bahwa hakikat ada dua, dan bukan dua tingkatan, tidak tepat dalam memahami ibarat Ibnu Rusyd.
Bab ketiga “Musuh para teolog telah menggantikan mereka”. Pada bab ini, dapat ditemukan kajian Dinani tentang hubungan pemikiran keagamaan Ibnu Rusyd dan Ghazali. Di sini, penulis membawakan contoh-contoh pentakwilan dari Ibnu Rusyd. Setelah membawakan contoh-contoh itu, penulis kemudian melakukan analisa. Akhirnya, Dinani meyakini bahwa kritikan dan cibiran Ibnu Rusyd terhadap para teolog mencakup dirinya juga. Mengapa demikian? Dinani melihat bahwa Ibnu Rusyd dari sisi kefaqihan dan pemikirannya membuatnya lebih mirip ahli teolog.
Bab keempat membicarakan usaha Ibnu Rusyd untuk mengharmoniskan fiqih dan filsafat. Cara pandang ibnu Rusyd terhadap fiqih membawanya pada keyakinan akan terbukanya pintu ijtihad. Sayangnya, itu tidak diikuti dengan penjelasan yang lebih tentang substansi ijtihad dan bagaimana terbukanya pintu ijtihad itu.
Bab kelima “Tahafut at-Tahafut Ibnu Ruysd kritikan terhadap Ghazali ataukah kepada Ibnu Sina?”. Bab ini menganalisa dua buku masyhur Ghazali dan Ibnu Rusyd. Di sela-sela itu, penulis membawakan pemikiran Ibnu Sina. Bab ini sangat menarik, karena penulis secara terperinci dan luas mengkaji kehidupan dan aktivitas sosial Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina. Informasi ini sangat menarik karena menyingkap banyak hubungan-hubungan yang selama ini tidak diperhatikan. Dan denganmembaca buku ini, semua itu dapat teraba dengan baik.
Bab keenam masih merupakan kelanjuta bahasan sebelumnya. Bab ini merupakan bagian paling sensasional. Karena membahas perbedaan antara Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina. Perbedaan mendasar pada masalah paling prinsip “hubungan antara mahiyah dan wujud”. Penulis meyakini akan pentingnya masalah ini. Oleh karenanya, dengan sabar ia membahas masalah ini sejelas mungkin. Di akhir bab ini, penulis membawakan pandangan Ibnu Rusyd sambil juga membawakan pandangan pemikir-pemikir Islam dan kemudian menganalisanya.
Bab ketujuh “Ibnu Rusyd dan usaha menetapkan keberadaan Allah dengan dua dalil; Inayah dan Ikhtira’”. Cara menetapkan keberadaan Allah lewat argumentasi imkan dan wujub tidak diterima oleh Ibnu Rusyd. Untuk itu, ia menawarkan argumentasi lain. Pertama, argumentasi Inayah yang berlandaskan kesiapan dunia untuk manusia dan tersedianya segala sesuatu untuk mannusia di dunia. Kedua, argumentasi Ikhtira’, di mana manusia adalah mukhtara’ (yang dibuat/dicipatakan) perlu akan mukhtari’ (pencipta). Dalam bab ini, Dinani menganalisa pendapat ibnu Rusyd dengan membandingkannya dengan pendapat para filosof lainnya.
Bab kedelapan penulis membahas pengertian “Ghair Mutanahi bil Fi’l”. Apakah pengertian ini kontradiksi atau tidak, dikaji secara terperinci. Pengertian istilah ini merupakan kajian yang dibahas baik dalam filsafat Yunani dan Islam. Istilah ini sangat erat kaitannya dengan teori fisika dan meta fisika. Di sini, Dinani membahasnya dari sudut pandang Ibnu Rusyd dan pemikir lainnya.
Bab kesembilan membahas tentang “Kulli Tabi’i”. Pertanyaan penting dalam masalah ini adalah, “apakah kulli tabi’i ada secara faktual?” Masalah wujud kulli merupakan kajian paling penting dalam sejarah filsafat. Dinani, membawakan pandangan para filosof Paripatetik, khususnya Ibnu Rusyd, sekaligus bentuk penafsiran-penafsirannya atas masalah ini.
Bab kesepuluh “Ibnu Rusyd beribicara tentang Maqashid Syariah”. Filosof paling pertama yang berbicara tentang masalah ini adalah Ibnu Rusyd. Ia menolak cara pandang Mu’tazilah dan Asya’irah dan membawakan pandangannya dalam masalah ini. Menurutnya, mengetahui maqashid syariah sangat membantu seorang teolog dan faqih.
Bab sebelas “Tanpa akal fa’al tidak ada yang dapat berpikir”. Posisi Ibnu Rusyd dalam masalah akal dijelaskan panjang lebar. Dalam bab ini dijelaskan mengenai tahapan-tahapan pengetahuan mulai dari akal hayulani hingga akal fa’al. Dijelaskan juga mengenai kekhususan setiap tahapan dan bagaimana mendapatkan pengetahuan. Akal fa’al bagi para pensyarah Aristoteles merupakan bahasan yang penting, namun senantiasa buram dan ambigu. Itulah yang membuat Ibnu Rusyd membahas masalah ini juga. Di akhirnya dijelaskan pandangan Ibnu Rusyd tentang akal fa’al.
Bab kedua belas membahas kekhususan metode Ibnu Rusyd dalam tafsirannya terhadap filsafat Aristoteles. Bab ini masih merupakan kelanjutan kajian epistemologi filosof Andalusia ini dan hubungannya dengan disiplin lain seperti teologi.
Bab terakhir “Menurut Ibnu Rusyd, argumentasi rasional merupakan masalah batin”. Pertemuan Ibnu Rusyd dengan Ibnu Arabi dan apa saja yang terjadi dengan keduanya dijelaskan di sini. Dari sini, penulis menuliskan kesamaan dan perbedaan antara dua pemikir besar ini. Yang satunya adalah tokoh Paripatetik dan satunya lagi tokoh tasawwuf. Selain itu, penulis juga membahas pikiran-pikiran lain Ibnu Rusyd.
Pentingnya buku ini karena ditulis oleh filosof tentang seorang filosof yang tidak begitu dikenal. Padahal, Ibnu Rusyd merupakan filosof penting Islam. Buku ini tidak hanya sekedar sejarah. Namun, sebagaimana tulisan lain profesor Dinani “Ma Jara-ye Fekre Falsafi Dar Jahan-e Eslam”, buku ini dipenuhi dengan analisa mendalam dan menarik petualangan akal dalam pemikiran dan hati kaum muslimin. Mungkin itulah yang mendasari penulis untuk tidak memberikan sebuah tempat khusus untuk menuliskan sejarah hidup Ibnu Rusyd secara lengkap. Namun, di sela-sela pembahasannya setiap kali perlu menjelaskan kehidupan Ibnu Rusyd itu dilakukannya.
Penjelasan global seperti ini tidak dapat menjelaskan substansi buku ini. Sudah pasti bahwa tidak ada model pengetahuan apapun yang dapat menggantikan membaca. Bagi yang ingin membaca buku ini disyaratkan sedikit banyak telah mengetahui tentang filsafat Islam dan sejarahnya.
Buku ini dapat menjadi jembatan untuk lebih mengenal siapa Ibnu Rusyd, sekaligus menghidupkan kembali sisi-sisi yang selama ini tersembunyi dari filsafat dan budaya Islam. Kecemerlangan filsafat Islam membutuhkan karya-karya seperti ini.
Tentang profesor Ghulam Hossein Ebrahimi Dinani
Doktor Ghulam Hossein Ebrahim Dinani lahir pada tahun 1313 HS atau kira-kira 72 tahun lalu di desa Dinan bagian dari propinsi Isfahan. Di tempat kelahirannya ia menyelesaikan SD nya. Pada waktu itu, keinginannya keras sekali untuk belajar agama. Ini mengantarkannya belajar fiqih, usul fiqih, nahwu, saraf, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ia belajar pada Syaikh Muhammad Ali Habib Abadi dan Syaikh Abbas Ali Habib Abadi.
Beliau pada tahun pertama dari dekade 1330, 55 tahun lalu, pergi ke Qom. Di sana, secara serius ia melanjutkan pendidikannya. Di Qom, ia belajar Syarah Lum’ah, Rasail, Makasib. Begitu juga ia mengikuti bahts kharijnya di sana. Ia belajar pada Syaikh Abdul Javad Sedehi, Sulthani Thaba’taba’i, Mujahidi, Imam Khomeini, Sayyid Muhammad Damad, Ayatullah Boroujerdi dan lain-lain. Pada saat yang sama, ia juga belajar Asfar Mulla Shadra dan Syifa Ibnu Sina kepada Allamah Thaba’thaba’i. Daya tarik pelajaran Allamah membuat profesor Dinani mengikuti kelas khususnya. Dan dengan izin dari Allamah ia mengikutinya.
Pada tahun 1340, 40 tahun lalu, ia berhijrah menuju Teheran. Ia mengikuti ujian dan berhasil mengikuti kuliah di fakultas ushuluddin universitas Teheran. Di fakultas ini, ia bertemu dengan pemikir-pemikir seperti doktor Javad Muslih, Malekshahi dan Rashid memberikan mata kuliah. Pada masa-masa itu, ia diterima oleh kementrian pendidikan sebagai pegawai negeri.
Pada tahun 1350, berdasarkan usulan Syahid Murtadha Muthahhari ia mengikuti ujian untuk menjadi asisten dosen di universitas Ferdousi Mashad. Ia di dua bidang; sejarah agama dan filsafat meraih urutan pertama. Ia kemudian memilih untuk lebih banyak aktif di bagian filsafat. Pada saat yang sama ia menyelesaikan program doktornya di Teheran. Akhirnya beliau secara resmi di terima di bagian filsafat universitas Ferdousi Mashad.
Doktor Dinani pada tahun 1361 dipindahkan ke Teheran masih dalam kelompok yang sama, filsafat. Semenjak itu, ia menjadi anggota tim studi filsafat universitas Teheran. Selain di bidang filsafat punya pandangan-pandangan khusus, ia juga seorang pemikir dalam bidang irfan dan fiqih. Dan dalam dua bidang ini, ia mempunyai banyak tulisan.
Karya-karya doktor Dinani antara lain:
1. Qavaed Kulli Falsafi Dar Falsafeye Eslam (1357-1360)
2. Wujud-e Rabet va Mustaqel Dar Falsafeye Eslami (1362)
3. Shu’a-e Andishe va Shuhud dan Dar Falsafe-ye Suhrawardi (1364)
4. Manteq va Marefat Dar Nazar-e Ghazali (1370)
5. Ma’ad Az Didgah-e Hakim Mudarres Zanuzi (1375)
6. Asma va Sefat-e Haq Ta’ala (1375)
7. Niyayesh-e Filsuf (1377)
8. Ma Jara-ye Fekre Falsafi Dar Jahan-e Eslam (1376-1379)[Saleh L]
opini Selasa, Apr 8 2008
Tak Berkategori 7:10 am
* Dekan Fakultas Hukum Unisma, Ketua LTNU kota Malang, dan Penulis Buku ”Republik Kaum Tikus”
Halo dunia! Selasa, Apr 8 2008
Tak Berkategori 7:04 am
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



